WELCOME IN MY BLOG

Minggu, 12 Mei 2013

SAYAP KIRIKU YANG PATAH

             Ini ceritaku. Cerita tentang sayap ku. Jika sang petinggi atau sang tuan mempunyai tangan kanan atau disebut orang kepercayaan. Aku mempunyai sayap kiriku. Karena tanpa sayap kiri aku tidak bisa berbuat sejauh ini. Mengikuti dia pergi hingga menjadi kehidupan yang lebih baik. Maho adalah sayap kiriku. Dengan dia aku bisa terbang sejauh ini. Bisa melihat isi Indonesia seluas ini. Darinya aku mendapat banyak pengalaman. Pengalaman pahit lebih terkenang dihatiku ketika merantau di kota orang tanppa biaya yang cukup. 15 tahun aku bersahabat dengan dia. 15 tahun pula aku tertawa bersama dia. Dia orang yang pertama kali aku kenal di bangku SD. 
Dan sampai saat ini aku masih bersahabat dengannya. Semenjak lulus SMA, aku dan moha berniat melanjutkan kuliah di Padang. Namun kami belum mempunyai biaya. Moha pun mengajakku untuk mencari pekerjaan disana.
Sudah hampir 2 tahun kami disini. Moha mendapat pekerjaan di kantor swasta sebagai marketing sedangkan aku masih samar. Seperti biasanya, Setitik cahaya itu selalu mengintip dari lorong salah satu sisi jendela hijau. Sebuah tanda alarm kehidupan untuk bangun dari sang mimpi. ”Trap….trap..”, suara derapan kaki melangkah keruang disudut rumah berdinding bambu. Sebuah lampu pijar menjadi saingan terangnya matahari pagi dan cermin tua yang tengah duduk menemani pintu yang dimakan usia selalu setia memberiku bayangan hidup. Dari bilik bambu itulah kudengar dia mengguyurkan air ketubuh Jangkungnya. Lama dia disana. Entah dia yang lama atau aku yang merasa tergesa-gesa. ” Hufft…” Aku menghela nafas panjang. Akhirnya dia keluar membawa sehelai ilalang ditangannya yang mungkin sudah berkembang biak di kamar mandi itu. Apa yang dipikirkannya, entahlah!. Serpihan senyuman selalu mengawali kehidupannya tapi tidak dengan hari ini.
            Moha, tubuh kurus tinggi melampaui daun pintu mempunyai kepribadian yang ulet, mandiri dan sifat keras kepalanya itu yang membuat ku merasa tidak berdaya dimatanya. Tapi itulah yang menjadi semangat untuk meneruskan kuliahku. Jalan persahabatan kami tak terasa sudah melewati beberapa fase dari SD, SMP, SMA dan bahkan sekarang. Meskipun kami mempunyai kehidupan masing-masing tapi Moha sudah kuanggap sebagai saudara kandungku. kami tetap bersahabat. Meskipun salah paham dan pertengkaran kecil sering menghiasi persahabatan kami. Moha bekerja dikantor Swasta sekitar 2 tahunan sedangkan aku hanya menjadi wiraswasta. Kami sering berbagi gaji hanya untuk sekedar membantu. Dari sinilah kami mencari makna kehidupan.
Minggu yang melelahkan mengawali kesibukan ku pagi ini. Aku pergi ketempat
temanku yang mengadakan acara syukuran sedangkan moha ada kepentingan lain dengan atasannya. Namun setiap mau berangkat kerja, aku selalu pergi bersama moha. Vespa yang kunaiki dengan moha cukup lincah dalam menghindari beberapa peristiwa tabrakan yang dahulu. Itu terbukti dengan awetnya 15 tahun vespa menemani moha walaupun kecepatannya tidak lebih dari jalannya kura-kura. Perjalanan yang begitu menikmati. Tapi tidak untuk saat ini. Saat ini aku sedang terburu – buru.
”Hei,moha,! Tidak bisakah kau cepat sedikit, aku tak enak dengan si marwan,”.
”Baiklah” lirih moha.
            Ada yang lain dengan sikapnya. Aku merasa ada yang berubah dalam dirinya. Dia tidak seceria dan sesemangat dahulu. Apakah mungkin dia sedang ada masalah dikantornya ?. ” Hei munib!, sudah sampai ini” dengan kerasnya. Ya. Munib adalah namaku tapi perhatian ku terrtuju pada suara lantang moha saat itu. Jarang moha bicara kasar seperti itu kepadaku kecuali jika ia mempunyai masalah, entahlah!. Aku tidak berani menegur dengan dalam saat ini. Sosok tubuh kurus berbalik arah dari tujuanku dan menghilang dari pandangan mata, wajahnya begitu pucat tiada gairah dalam merdeka hidup yang telah merdeka sejak tahun 1945. Ingin ku membiarkan dia istirahat digubuk reot kami itu. Namun wataknya yang pekerja keras dan tegas yang membuatku tidak bisa menghalangi kepentingannya hari ini.
            Moha begitu aku memanggilnya. Kami berasal dari desa terpencil. Diriku teringat ketika kerasnya moha menjadi-jadi semasa SMA. Aku dan moha menerima kelulusan SMA dengan riang. Aku berlari dan berlari kearah sungai dekat hutan bersama moha. Moha berteriak dengan lantang.
Aku berjanji tidak akan pernah pulang ketempat ini jika aku bisa menjadi apa yang aku cita-citakan!”.
Suara menggelegar moha terdengar sampai keujung desa seberang. Ucapan itu selalu meninggalkan bekas tajam diotakku menjadikan dirinya untuk bisa sabar dalam kerasnya kehidupan. Sebagai kawan terdekatnya, aku merasakan apa yang dia katakan. Di hutan itu ia luapkan kegigihannya. Ia  ingin menunjukkan kepada semua orang kalau dia bisa. Tekadnya sudah mencapai tingkat akhir. Apalagi moha berasal dari keluarga separuh hidup. Untuk makan pun harus rela mengais-ngais sebutir rejeki dibelakang mata. Semasa sekolah semua pekerjaan keras telah dia coba. Dari buruh kasar, kuli bangunan, Pembantu. Namun kewajibannya sebagai pelajar tidak ia tinggalkan,bahkan dalam hal belajar pun ia termasuk anak yang pintar tidak heran ia menjadi bintang kelas.
            Saat ia berjanji memang tengah terjadi pertengkaran antara Moha dan penduduk desa. Penduduk meragukan keberhasilan moha kelak jika dia pergi dari desa ini, penduduk beranggapan sedangkan untuk makan saja harus mengais-ngais apalagi untuk sekolah yang lebih tinggi pasti tidak akan mampu. Bagaikan pungguk yang merindukan bulan. Cambukan jiwa itulah yang membuat semangatnya berkobar membakar seluruh sumpah serapah yang ia berikan dan melupakan kejadian disana. Amarahnya bertambah ketika orangtuanya harus merasakan getir hidup, penghinaan yang dia rasakan. Dari sinilah Moha memboyong orangtuanya kekota yang ia tempati. Alhamdulillah 18 tahun sudah peristiwa itu berakhir dengan kesejahteraan dan kebahagiaan telah ia petik buahnya sekarang.
            Memang moha anak yang mandiri. Tapi….“Munib!”, suara cempreng bergabung dalam pendengaran dan membuyarkan lamunanmu. Aku berjalan kearah sumber suara yang memanggilku. ”Oh tito rupanya, dia teman senasibku. kami sama-sama wiraswasta. “Munib!, kemana saja kau?”, teriak reto. ”Ada apa rupanya”, aku melihat kepanikan dalam diri tito. ”Kawanmu!”, ujarnya. Aku masih belum mengerti apa yang dimaksudnya. ”si Moha ,kecelakaan! Dan sekarang ada diujung jalan sana,ayo bergegaslah kau!”,teriaknya. Suasana mencekam menyelimuti hariku saat ini. Nadiku berhenti cepat, membuat aku terhuyung-huyung dalam perjalanan kesana. Aku berlari dengan perasaan iba, kumenangis, teman ku moha, kecelakaan !.
            “Munib..” terdengar suara moha dengan lirihnya. Kulihat sekeliling moha telah berkumpul sederetan manusia tengah heran, panik dan cemas. Darah yang moha keluarkan sama banyak dengan perasaan sedihku saat ini. Moha terus memanggilku. Tapi aku membiarkannya dalam istirahat menuju kerumah sakit. Darahnya menetes seperti tetesan air mataku. Perasaanku menangis menyatu segenap dalam asa dan harapan. Aku mengiringi moha sampai didepan RS tempat ia akan dirawat, ICU telah menunggunya, semua telah memberi jalan kepadanya. Ku bersujud dan bersimpuh didepan pengharapan moha. ”ya Allah, kuatkanlah hati hamba dalam menghadapi cobaan ini,berikan dia kekuatan dalam menghadapi masa kritisnya”. Selalu doa demi doa kupanjatkan, demi teman kecilku,moha. Semoga dia bisa melewati masa kritisnya. Aku sudah mengganggap moha sebagai saudara kandung ku sendiri. Setelah melewati tahun-tahun sulit kemarin membuat ku tidak percaya apa yang dialami moha. Seperti kasih sayang terhadap kakak sendiri.
            Kuusap kepalanya yang haus dengan kelembutan, dari detak jantungnya aku melihat suatu kegigihannya  dalam mempertahankan masa kritisnya. Secuil harapan untuk bisa menghirup udara bebas lagi. Dia memegang tanganku suaranya yang parau ingin mengucapkan sesuatu padaku, Entahlah....
”Munib, tolong rawatlah orangtuaku dan aku akan menjadi teman kau selamanya”. Tapi ucapan itu tidak pernah kupikirkan. Aku masih mengurusi kesibukan pikiranku tentang pengangguranku. Moha yang begitu lihai dalam kendaraan bisa terjadi kecelakaan “Ah..! terlalu angkuh kumengucapkannya”. Moha hanya manusia yang tak luput dari cobaan Allah, selama dia berkendara dia selalu lihai namun hanya sekarang dia mengalami kecelakaan. ”Bukan waktu yang tepat untuk berbicara seperti itu sekarang”, pikirku. Kumelihat Moha melawan kerasnya Maut, berjuang untuk meninggalkan masa lalu yang suram dan dihatinya masih ada secerca harapan yang ingin diwujudkannya dan harapan itu tertunda dengan jeda yang begitu singkat dan terjadi hari ini. Mirisnya keadannya moha sekarang,di ICU. Dia ditemani dengan  alat-alat kedokteran canggih yang apakah bisa menjadi teman bercandanya, apakah bisa membuat ia merasa terhibur kembali. Lingkar mata pun sudah terbentuk diwajah ku, Rona wajah pun tak datang lagi. Nafas terengah-engah moha selalu kuiringi dengan kalimat ”Lailahailallah muhammadarasulullah” dan sampai akhirnya hembusan nafas terakhir moha lepas bersama dengan isak tangis dari ku, kerabatnya dan orangtuanya.
Malaikat itu datang juga menjemput moha. Suasana berubah begitu cepat saat itu. Tertunduk lesu wajahku melihat temanku pergi tanpa tanda suatu apapun untukku. Cerita harapan yang akan disampaikan nya akan melewati fase yang begitu panjang hingga aku pun akan bertemu disuatu tempat dimana aku  dan moha bisa bersama lagi. Masih banyak cerita yang ingin aku bagikan kepadamu. Masih banyak impian yang akan kita kenang di dunia ini, kawan. Tentang pekerjaan ku. Kamu tahu, moha. Hari ini adalah hari pertama ku kerja di bank swasta. Aku mempunyai niat untuk mentraktirmu makan jika gaji pertama kuperoleh. Namun, engkau telah mendahuluiku, kawan.
Para perawat membereskan ranjang moha dan kami membawa kerumah duka. Semua teman-temaan merasa tidak percaya apa yang terjadi pada moha, pada kawanku. Aku masih mencatat dalam pikiranku tentang impian yang akan kita capai bersama-sama. Mulai dari bekerja, kuliah dan kuliah lagi sampai S2 di Amerika. Tapi sekarang engkau pergi. Kawan terbaik yang pernah aku kenal. Bisa berbagi suka dan duka. Cerita kita begitu melelahkan. Disaat kita kelaparan, kita sama-sama lapar. Disaat ituah emosional kesuksesan mu bangkit, kawan. Tak ingatkah engkau. Izinkan aku untuk melanjutkan impian kita, teman. Semoga engkau tenang disana, kawan. Aku akan selalu mendoakanmu. Selamat jalan.

1 komentar: